IDOLAKU, leluhur Sumedang.
Oleh
E. Kosmajadi

Pangeran Aria Suriaatmadja alias Pangeran Mekah, Bupati Sumedang (1882-1919), waktu kecil bernama Raden Sadeli.
Beliau adalah putra kesembilan dari Pangeran Sugih, lahir pada tanggal 11 Januari 1851. Pada usia muda (18 tahun) sudah mengabdi kepada tanah air sebagai Kliwon di Sumedang, kemudian diangkat jadi Patih Sukapura-Manonjaya (29 Maret 1879), dan akhirnya menjadi Bupati Sumedang tahun 1882.
Pangeran Mekah merupakan bupati terakhir dari keturunan Sumedang, karena beliau tidak memiliki putra sebagai pewaris tahta, sehingga penerusnya bukan keturunan beliau, melainkan sodaranya yang bernama R. Kusumadilaga, disebut juga Dalem Bintang.
Selama menjabat sebagai Bupati, karya bakti yang dipersembahkan untuk kesejahteraan rakyat luar biasa, karena bersifat komprehensif dan monumental. antara lain.
- Bidang pertanian (tatanen) jejak perjuangannya masih terlihat sampai sekarang, yaitu APT dan Unwim.
- Bidang Pendidikan (atikan), mendirikan sekolah di pedesaan dan menganjurkan agar para orang tua memasukan anaknya ke sekolah, amanatnya yang terkenal "Budak kudu pinter maca, pinter nulis, jeung pinter ngaji)
- Bidang Peternakan (ingon-ingon), jejaknya masih ada sampai sekarang, antara lain di Sumedang banyak delman, kuda renggong, dan pacuan kuda. Beliau merintis peternakan kuda dengan mendatangkan bibit unggul dari Sumba dan Sumbawa.
- Bidang Perikanan (miara lauk), beliau sangat menyukai perikanan. Orang awam memelihara ikan di kolam, beliau menebar benih ikan bukan hanya di kolam tetapi juga di sawah dan di sungai (Cipeles). Beliau melarang menangkapm ikan menggunakan racun, agar ikan di sungai tetap lestari.
- Bidang Pengairan (irigasi), untuk mengairi sawah yang ditanami padi, beliau membangun irigasi dan bendungan dengan teknologi sederhana yang tidak merusak lingkungan.
- Bidang Kehutanan (leuweung), untuk menjaga kelestarian hutan, beliau melarang memburu binatang langka dan berburu ada aturannya. Menetapkan hutan tutupan (leuweung tutupan), yang tidak boleh diganggu siapa pun, bersamaan dengan itu menanam kayu sangat dianjurkan. Pasangan muda yang mau menikah harus membawa kitri untuk ditanam.
- Bidang Kesehatan (kasehatan), kesehatan pun tak luput dari perhatiannya, beliau saat itu memberantas penyakit cacar agar tidak menular.
- Bidang Politik (pulitik), beliau menghendaki agar rakyat melek hurup, melek informasi, melek politik. Pernah usul kepada pemerintah Belanda agar rakyat Indonesia diajari cara menggunakan senjata (bedil), tujuannya agar bisa membantu keamanan menjaga tanahy airnya. Tetapi ditolak, Pemerintah Belanda khawatir, takut senjata makan tuan. Maka, Pangeran Mekah menulis buku "Ditiung Memeh Hujan", intinya mengingatkan bangsa Indonesia agar waspada, hati-hati terhadap politik Belanda yang merugikan rakyat Indonesia. Melihat hal tersebut, Pemerintah Belanda semakin kecut hatinya, kemudian membangun benteng di Gunung Kunci, di sana disiagakan meriam yang moncongnya diarahkan ke Pendopo Kabupaten Sumedang, ciri bahwa Belanda sangat takut oleh Pangeran Suriaatmadja. Namun Bupati Sumedang yang satu ini tak pernah merasa takut, ia tetap dalam pendiriannya.
- Bidang Ekonomi dan Keuangan (ekonomi jeung bank), untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Sumedang, beliau mendirikan bank Priyayi tahun 1900-an, seterusnya menjadi Afdellings Bank (sekarang BRI). Bank ini disediakan untuk para pegawai pemerintahan. Bersamaan dengan itu, di desa-desa didirikan Lumbung Desa.
- Bidang Keagamaan (agama), tidak luput dari perhatiannya. Pembangunan mesjid, pesantren, dan madrasah dibantu sepenuhnya. Para ulama yang berniat menyebarkan ajaran Islam dipasilitasi, misalnya mewakafkan tanah untuk membangun tempat-tempat ibadah dan pesantren.
- Bidang Keamanan (kaamanan), untuk menjamin terselenggaranya pemerintahan dan aktifitas rakyat yang tentram dan damai, beliau tidak lupa merancang sistem keamanan yang solid. Sistem ronda malam di setiap kampung yang ada sekarang, merupakan ide yang dikembanglkan Pangeran Suriaatmadja saat itu. Bahkan untuk mencegah kebakaran, beliau memerintahkan agar di setiap halan rumah disediakan lodong diisi air untuk memadamkan api kebakaran, bakrik untuk mengait rumah yang terbakar agar tidak menular ke rumah lain, dan taraje untuk memanjat rumah atau tempat strategis untuk memadamkan api. Sebagai pelengkap, disediakan kohkol sebagai alat komunikasi sosial saat itu.
- Bidang Sosial (sosial), pada tahun 1879 pernah membeli lahan di Sampora Buah Dua Sumedang, digarap secara cuma-cuma oleh penduduk Indramayu untuk mengatasi musim paceklik, sekedar membantu bagi yang kekurangan pangan. Membangun pemandian Cipanas Conggeang,l memfasilitasi penderita gatal dan rhematik agar bisa berobat di sana. Beliau melarang menikah pada usia dini, dan masih banyak lagi program beliau di bidang sosial.
Dalam menjalankan roda pemerintahannya, istilah "blusukan" yang terkenal saat ini, menjadi kebiasaan keseharian Pangeran Suriaatmadja. Secara berkala beliau selalu turun ke desa, melihat keadaan masyarakatnya. Banyak hal yang terjadi, banyak kisah yang tersirat sampai saat ini, banyak sasakala yang menyangkut ciri khas setiap daerah di wilayah Sumedang. Misalnya, mengapa boled Cilembu manis, mengapa mangga di Tomo barorok, mengapa lahang kawung di Bangbayang selalu melimpah, dan masih banyak lagi. Konon kabarnya, semua itu berasal dari ucapan beliau yang saciduh metu, saucap nyata, karena beliau menganut Kasumedangan. Setiap kata bertuah, setiap ucap bermakna, beliau tak pernah berkata-kata yang tidak perlu, jujur dan berwibawa. Ucap, tekad, jeung lampah seiring sejalan.
Pesan beliau untuk para pemuda harapan bangsa
Leluhur saya (kakek penulis) bernama Madrapi, pernah menyaksikan Pangeran Mekah pada saat sedang ngaronda desa, beliau diusung dalam sebuah tandu sederhana menempuh jalan setapak yang terjal mendaki. Para pemikul tak pernah merasa cape, beliau seolah tanpa bobot, ringan dan nyaman ketika diusung dalam tandu. Pada tahun 1921, ayah penulis (anak kakek Madrapi) lahir, bulan yang sama dengan meninggalnya Pangeran mekah.
Beliau meninggal dunia di Mekah, pada tanggal 1 Juni 1921, dimakamkan tidak jauh dari Makam Siti Khadijah (istri Nabi Muhammad saw). Untuk mengenang jasa-jasa beliau, Pemerintah Belanda saat itu mendirikan sebuah monumen yang disebut LINGGA, tepat di tengah alun-alun Sumedang sampai saat ini.
Semoga jejak perjuangannya menginspirasi para pemuda-pemudi Indonesia umumnya, nonoman Sunda khususnya. Ammin.








0 komentar:
Posting Komentar